Pagi itu, 05 juni 2026 tepat jam 09.00 Wita Balai Desa Pohsanten tidak sekadar menjadi tempat berkumpul biasa. Di bawah Aula kebanggan itu, sebuah momentum krusial sedang digerakkan: Rembuk Stunting Desa. Pertemuan ini bukan formalitas di atas kertas, melainkan sebuah ruang panggung demokrasi yang inklusif, tempat setiap suara dari pejabat kecamatan hingga warga yang jarang terdengar, memiliki bobot yang sama dalam menentukan masa depan kesehatan di desa.
Kursi-kursi di aula diisi oleh representasi masyarakat yang sangat beragam. Di baris depan tampak Kepala Desa, Perangkat Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan Petugas Puskesmas, pendamping desa, PLKB, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, kader Posyandu, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), kelompok perempuan, perwakilan warga miskin, hingga keluarga yang memiliki balita berisiko stunting (kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis) dan unsur lainnya.
Sejak awal, sekretris desa fasilitator diskusi menegaskan aturan main: tidak ada hierarki dalam berpendapat. Semua yang hadir adalah mitra setara dalam misi besar percepatan penurunan stunting.
Ketika sesi diskusi dimulaisuasana yang semula tenang berubah menjadi dinamis. Diskusi mengalir hangat, jauh dari kesan formalitas yang membosankan. Bidan desa dan petugas Puskesmas memaparkan data pemetaan stunting terkini. Dari data tersebut, para kader Posyandu langsung memberikan masukan riil dari lapangan mengenai kendala distribusi makanan tambahan dan pemahaman sanitasi di beberapa keluarga.
Diskusi memanas secara positif ketika agenda memasuki pembahasan prioritas alokasi Dana Desa untuk sektor kesehatan. Data capaian jaminan kesehatan dan kondisi sanitasi dipaparkan. Perdebatan sengit
namun sehat sempat terjadi saat menyusun skala prioritas pengalihan sebagian
Dana Desa. Perwakilan pemuda dan kader lingkungan bersikeras bahwa perbaikan
sanitasi dan akses air bersih adalah kunci utama. Di sisi lain, kelompok ibu
menyusui mempertahankan argumen bahwa edukasi gizi dan pengadaan kebutuhan yang
akurat di setiap Posyandu jauh lebih mendesak.
Kedua belah pihak
saling adu argumen dengan data dan fakta lapangan yang mereka temui
sehari-hari. Tidak ada yang mau mengalah begitu saja, karena semua peduli dan
ingin intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran. Diskusi tetap
berjalan terarah berkat fasilitator yang cakap menjaga alur pembicaraan tetap
fokus pada esensi kesehatan ibu dan anak.
Melihat dinamika
musyawarah yang begitu hidup, Ketua BPD Desa Pohsanten yang mengawasi jalannya
acara tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Saat diberikan kesempatan
berbicara, beliau menyampaikan apresiasi yang luar biasa.
"Jujur, saya
sangat mengapresiasi dan terharu melihat rembug hari ini. Memang begini
seharusnya rembug stunting dilaksanakan! Bukan cuma datang, dengar paparan,
lalu ketok palu tanda setuju. Hari ini kita melihat ada partisipasi inklusi
yang nyata. Ada perdebatan, ada adu argumen, dan ada solusi yang lahir dari bawah.
Ini adalah tanda bahwa masyarakat Desa Pohsanten betul-betul peduli dengan masa
depan anak-anak kita," ungkap Ketua BPD disambut tepuk tangan riuh dari
seluruh peserta.
Melalui diskusi yang tajam namun berbasis kekeluargaan tersebut, Rembug Stunting Desa Pohsanten akhirnya berhasil merumuskan beberapa kesepakatan strategis yang terarah, mulai dari: Optimalisasi anggaran untuk PMT (Pemberian Makanan Tambahan) berbasis pangan lokal, Perbaikan sarana air bersih di titik rawan dan hal prinsip lainnya
Rembug hari itu
ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama. Desa Pohsanten hari itu tidak
hanya berhasil menyusun program kerja, tetapi juga telah mempraktikkan
demokrasi desa yang sehat, inklusif, dan bermartabat demi mewujudkan desa bebas
stunting.
Zaim (PDP Kec. Mendoyo)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar